Pagi ini saya terbangun seperti biasa. Udara dingin yang tidak terlalu menyengat di ujung kaki langsung memberi sinyal bahwa pemanas di samping pintu depan pastilah sedang menyala. Sudah hampir dua bulan—tepatnya sejak pertengahan November lalu—saya berada di Leiden, Belanda.
Memasuki penghujung Desember, transisi musim gugur ke musim dingin terasa semakin menusuk tulang. Mengingat perjalanan pulang dari Museum Naturalis tadi malam saja, jam tangan saya menunjukkan angka 4 derajat Celcius. Mengayuh sepeda di tengah suhu seperti itu membuat wajah dan tangan serasa dibenamkan ke dalam serutan es; sarung tangan murah yang saya beli di pasar Leiden bulan lalu pun seolah kehilangan fungsinya, tak mampu menahan gempuran hawa dingin.
Selepas subuh, rutinitas dimulai dengan gercep. Sambil mengisi daya ponsel dan laptop (tidak lupa mengisi SKP untuk kantor di Indonesia), saya sibuk mengiris bawang merah dan putih untuk menyiapkan bekal nasi goreng. Membawa bekal sudah menjadi prinsip utama saya, bukan semata-mata soal status halal (karena kantin Naturalis sepenuhnya menyajikan menu all-vegan), melainkan demi menjaga dompet agar tidak "jebol" jika harus jajan setiap hari di sana.
Sesaat setelah mandi dan bersiap, pergelangan tangan saya bergetar singkat ketika saya mengenakan jam tangan. Sebuah notifikasi muncul:
"Happy Birthday!"
"Oh, iya. Hari ini tanggal 23," gumam saya dalam hati. Saya membuka WhatsApp dan baru menyadari ada ucapan hangat dari istri yang dikirimkan tadi malam. Sebuah pengingat manis di tengah kesendirian saya di negeri orang.
Saya pun bergegas berangkat.
| Notifikasi kecil di pergelangan tangan |
Secara umum, jam kantor di Belanda dimulai pukul sembilan pagi. Namun, sebagai guest researcher di Naturalis, tidak ada mesin pemindai sidik jari yang mengawasi kehadiran saya. Semuanya berlandaskan kepercayaan dan kesepakatan dengan Nicole, pembimbing S3 saya dahulu sekaligus host yang mengundang saya ke sini. Namun, karena beban pekerjaan yang padat, saya selalu mengusahakan datang sepagi mungkin dan pulang saat hari sudah gelap—sekitar pukul enam sore. Di musim seperti ini, siang hari terasa begitu singkat; matahari baru menampakkan diri pukul delapan pagi dan sudah pamit pada setengah lima sore.
Sesampainya di gedung Naturalis, saya langsung menuju COLA5, laboratorium koleksi basah di lantai lima. Fokus saya hari ini adalah mendokumentasikan voucher spesimen. Masih ada satu nampan berisi toples-toples spesimen sisa pekerjaan minggu lalu yang menanti untuk difoto.
Tepat pukul 12 siang, saat saya sedang menangani toples kedelapan, Nicole dan Marten muncul untuk mengajak makan siang. Namun, istirahat itu hanya jeda singkat sebelum pekerjaan justru bertambah. Kami berpindah ke laboratorium basah di lantai dua di gedung sebelah untuk mengambil toples lain yang harus difoto ulang. Tak berselang lama, satu nampan lagi tiba, lalu menyusul nampan berikutnya yang dibawa Nicole dan Marten dari ruang koleksi Porifera di lantai 15 tower Naturalis.
Sesuai dugaan, hari saya habis dalam rangkaian potret demi potret spesimen. Hingga pukul enam sore berlalu, masih ada sisa pekerjaan yang terpaksa saya simpan untuk esok hari.
| Meja kerja foto voucher spesimen di COLA5 |
Sebelum saya mengemasi barang untuk pulang, Nicole sempat mampir sebentar. Kami berpamitan karena kemungkinan besar baru akan bertemu lagi Senin depan. Besok ia mungkin tidak masuk, mengingat lusa adalah hari Natal dan libur panjang akan segera dimulai di sini.
Begitulah cara saya melewati usia ke-38 kali ini. Tanpa perayaan mewah, hanya ditemani ribuan spesimen dan dinginnya Leiden. Happy birthday to me!
Komentar
Posting Komentar