Pagi ini saya terbangun seperti biasa. Udara dingin yang tidak terlalu menyengat di ujung kaki langsung memberi sinyal bahwa pemanas di samping pintu depan pastilah sedang menyala. Sudah hampir dua bulan—tepatnya sejak pertengahan November lalu—saya berada di Leiden, Belanda. Memasuki penghujung Desember, transisi musim gugur ke musim dingin terasa semakin menusuk tulang. Mengingat perjalanan pulang dari Museum Naturalis tadi malam saja, jam tangan saya menunjukkan angka 4 derajat Celcius. Mengayuh sepeda di tengah suhu seperti itu membuat wajah dan tangan serasa dibenamkan ke dalam serutan es; sarung tangan murah yang saya beli di pasar Leiden bulan lalu pun seolah kehilangan fungsinya, tak mampu menahan gempuran hawa dingin. Selepas subuh, rutinitas dimulai dengan gercep. Sambil mengisi daya ponsel dan laptop (tidak lupa mengisi SKP untuk kantor di Indonesia), saya sibuk mengiris bawang merah dan putih untuk menyiapkan bekal nasi goreng. Membawa bekal sudah menjadi prinsip utama saya...