Ikhtiar merupakan usaha atau upaya sungguh-sungguh yang dilakukan seseorang menggunakan segala potensi, akal, dan kemampuan untuk mencapai tujuan, mengatasi masalah, atau memenuhi kebutuhan hidup. Begitu penjelasannya jika ku-tanya di google dengan AI mode. Bagaimana jika usaha tersebut menemui jalan buntu? Yah, itu tandanya harus ikhlas. Boleh yakin kalau akan ada yang lebih baik, atau sebaliknya kalau itu akan berdampak buruk jadinya. Cuma saya tidak bisa memberikan clue , tentang apa sebenarnya ikhtiar yang saya lakukan ini. Ya, mungkin di lain blog, akan saya ceritakan. Namun jalan buntu itu memang ada. Jangankan itu, usus buntu pun ada. #joke Ikhlas merupakan ketulusan hati dalam melakukan segala sesuatu atau menerima ketentuan hidup semata-mata karena Allah SWT, tanpa mengharapkan pujian, imbalan, atau balasan dari manusia. Itu juga kata AI mode di laman google. Yaaah, dari sini sudah terlihat ya, kalau berpikir saja sedang malas kulakukan. Jadi apa yang mau kutulis lagi...
Pagi ini saya terbangun seperti biasa. Udara dingin yang tidak terlalu menyengat di ujung kaki langsung memberi sinyal bahwa pemanas di samping pintu depan pastilah sedang menyala. Sudah hampir dua bulan—tepatnya sejak pertengahan November lalu—saya berada di Leiden, Belanda. Memasuki penghujung Desember, transisi musim gugur ke musim dingin terasa semakin menusuk tulang. Mengingat perjalanan pulang dari Museum Naturalis tadi malam saja, jam tangan saya menunjukkan angka 4 derajat Celcius. Mengayuh sepeda di tengah suhu seperti itu membuat wajah dan tangan serasa dibenamkan ke dalam serutan es; sarung tangan murah yang saya beli di pasar Leiden bulan lalu pun seolah kehilangan fungsinya, tak mampu menahan gempuran hawa dingin. Selepas subuh, rutinitas dimulai dengan gercep. Sambil mengisi daya ponsel dan laptop (tidak lupa mengisi SKP untuk kantor di Indonesia), saya sibuk mengiris bawang merah dan putih untuk menyiapkan bekal nasi goreng. Membawa bekal sudah menjadi prinsip utama saya...